4 Tips Penting Berhemat Masa Pandemi Covid 19

Hampir 2 tahun ini masyarakat benar-benar terdampak, baik dari segi kesehatan dan ekonomi yang diakibatkan oleh Pandemi Covid 19. Badai bencana ini benar-benar memberikan pembelajaran tentang kehidupan, sehingga semuanya harus mulai dipersiapkan lagi dan tidak sembarangan dalam memutuskan berbagai tindakan kedepannya. 

Dampak yang panjang dan belum ada titik terangnya, membuat Anda harus mulai merencanakan yang terbaik dan hidup hemat. Keadaan sekarang belum sepenuhnya pulih dan harus mempersiapkan segala kondisi yang ada. Nah, untuk Anda yang mulai merasakan dampaknya, bagaimana mempersiapkan hidup hemat tersebut? Mari kita bahas. 

Proses Mempersiapkan Hidup Hemat 

1. Putus Langganan TV

Langkah pertama kali yang harus Anda lakukan untuk tidak melakukan langganan TV, karena keadaan tersebut tidak terlalu benar-benar penting atau mendesak. Apalagi peranan dari TV sudah berganti pada internet, rasanya apabila Anda masih terus melanjutkan untuk langganan itu hanya akan membuang biaya-biaya yang tidak perlu saja. 

Hal ini harus Anda ukur dan minimalisir pengeluaran yang tidak begitu penting, sebab keadaan tersebut hanya akan membuat Anda mengalami dampak yang besar, khususnya pada keuangan yang Anda miliki sekarang. Semuanya harus terukur dan jangan sampai Anda menghabiskan dengan poyah-poyah, karena keadaan tersebut hanya akan merugikan. 

Alokasikan dana nya pada kebutuhan yang paling mendesak dan bukan dengan proses langganan yang tidak begitu mempengaruhi keadaan yang ada. Perlu dipahami keadaan Anda memang sedang tidak baik-baik saja, semuanya harus terukur dan kurangi berbagai tindakan yang hanya akan merugikan dan memperbesar pengeluaran tersebut. 

2. Mengalokasikan Dana Belanja Per Bulan 

Untuk kebutuhan setiap keluarga memang berbeda-beda, sehingga tidak bisa dipatok atau diukur dengan sama semuanya. Apalagi jika Anda sedang mempunyai bayi dirumah, maka keadaannya tentu berbeda. Khususnya pada pengeluaran yang harus Anda habiskan setiap bulannya nanti, sehingga jangan sampai terjebak. 

Hal paling masuk akal yang bisa Anda lakukan tersebut dengan memberikan daftar anggaran pengeluaran yang harus Anda habiskan setiap bulannya. Cara yang paling mudah untuk melakukannya dengan konsep persentase atau alokasi dana. Dalam tahap ini Anda bisa melakukannya dengan budget yang dimiliki tersebut secara keseluruhan. 

Prosesnya berikan 10 persen sektor belanja untuk setiap bulannya, semuanya tidak boleh lebih dan ada tambahan kembali. Sisa 90 persennya harus digunakan dengan bentuk yang lainnya. 30-40 persen biaya bulanan lain, 30 persen investasi, perlindungan diri, dan sisanya antara 20 persen sampai 30 persen untuk cicilan atau kredit jika ada. 

3. Tutup Sementara Kartu Kredit 

Mengubah kebiasaan memang tidak mudah, namun keadaan mengharuskan Anda untuk perlahan melakukannya dan mengurangi berbagai kegiatan yang dianggap pemborosan. Salah satunya yang bisa Anda lakukan dengan menutup dan tidak menggunakan sementara dahulu kartu kredit, karena hanya akan berpotensi menumpuk hutang saja. 

Kedepannya kehidupan Anda akan tidak begitu damai dan berdampak pada permasalahan yang akan terjadi kedepannya. Hal ini harus benar-benar mampu Anda atasi dan jangan sampai Anda salah dalam melakukannya. Apabila Anda memutuskan tanpa ada perhitungan akan ada banyak permasalahan yang akan terjadi nantinya. 

Semuanya harus benar-benar diperhitungkan dan jangan sampai terjebak. Kartu kredit memang penting untuk beberapa kebutuhan, tetapi apabila Anda melakukannya untuk proses yang boros atau merugikan tentunya kurang tepat. Sementara ini lebih baik untuk menutupnya dahulu dan tunggu keadaan benar-benar bisa diatasi dan berjalan normal kembali. 

Lebih baik menunda keadaan dan bisa berhenti sama sekali, karena apabila hal-hal yang berkaitan dengan hutang akan memberikan beban. Oleh karena itu, pastikan Anda mampu untuk bisa memahaminya. 

4. Tunda Sementara Membeli Kebutuhan Rumah 

Hampir semua sektor mengalami dampak yang besar, sehingga Anda harus benar-benar mampu mempertahankan sumber pemasukan yang ada sekarang. Jangan sampai Anda salah dalam memutuskannya, apalagi jika Anda masih sibuk dengan membeli berbagai kebutuhan rumah yang semuanya bisa sangat mudah untuk Anda tunda terlebih dahulu. 

Menambah peralatan dan perlengkapan rumah memang bagian yang menarik untuk Anda lakukan, tapi sementara fokus Anda bukan pada kegiatan tersebut. Karena keadaan benar-benar belum membaik dan masih banyak sektor yang terkena dampaknya. Sehingga berpengaruh pada keadaan dan pemasukan Anda kedepannya. 

Paling penting sekarang untuk lebih fokus dalam menjaga dan mempertahankan sumber daya yang ada, lalu fokus pada keadaan yang bisa menambah nilai investasi yang dimiliki. Keadaan tersebut benar-benar harus mampu Anda lihat dan perhatikan agar semuanya tetap bisa berjalan dan memberikan dampak yang positif untuk keuangan Anda selama masa pandemi. 

 

Nah, demikianlah beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk berhemat selama masa pandemi Covid 19 sekarang ini. Semuanya harus benar-benar Anda pahami dan jangan sampai Anda terjebak dan salah dalam memutuskannya.

Deretan Bisnis yang Banyak Gulung Tikar Selama Pandemi

Tidak dipungkiri bila pandemi ini memang memiliki dampak yang begitu besar bagi perekonomian negara. Bahkan ada banyak sektor usaha yang terkena imbasnya, termasuk dalam sektor perdagangan. Tidak hanya pemasukkan yang berkurang, namun beberapa bisnis tersebut harus gulung tikar karena mereka tidak dapat bertahan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Yuswohady pada blog pribadinya, telah ada beberapa usaha yang saat ini meredup dikarenakan pandemi.

1. Hotel

Yuswo mengatakan bila sudah banyak hotel yang harus tutup disebabkan tidak adanya tamu yang menginap disana. Menurut data dari Kemenparekraf sejak April, jumlah hotel tutup sementara pada covid 19 ini telah menyentuh angka 1.500 dan di seluruh Indonesia.

Untuk dapat bertahan, banyak penginapan yang melakukan beragam upaya agar tetap bertahan, seperti program staycation, work from hotel, hingga cleaning door to door. Walau begitu, pemulihan dalam sektor pariwisata tetap memerlukan waktu yang cukup lama. Menurut WTTC (World Travel & Tourism Council), sektor pariwisata setidaknya membutuhkan waktu untuk pulih selama 10 bulan.

2. Money Charger

Bisnis penukaran uang (money changer) juga termasuk yang terkena dampak pandemi. Hal ini karena perjalanan menggunakan pesawat untuk antar negara sedang dibatasi. Sehingga tidak banyak orang yang memerlukan jasa penukaran uang. Misalnya,seperti di Bali. Dengan tidak adanya turis yang datang kesana, sudah pasti tidak ada wisatawan asing yang melakukan penukaran uang.

3. Pusat kebugaran atau fitness

Sektor usaha berikutnya adalah pusat kebugaran atau gym merupakan salah satu yang terdampak oleh pandemi. Karena tempat fitness dianggap sebagai lokasi yang memiliki kemungkinan terbesar untuk penularan virus corona. Karena tentu saja akan terjadi kontak fisik serta peralatan olahraga yang dipakai banyak orang.

Tidak hanya di Indonesia saja, di luar negeri pun banyak gym atau tempat fitness yang terpaksa ditutup sementara waktu. Sebagai gantinya banyak pemilik atau coach yang membuka kelas kebugaran secara online dengan harapan tetap bisa memiliki penghasilan.

4. Film dan produksi tv

Selanjutnya adalah sektor perfilman dan produksi, karena dianggap sebagai lokasi yang rawan penularan virus covid 19. jadi banyak sekali bisnis yang berhubungan dengan sektor ini memilih untuk menutup bisnisnya sementara waktu hingga kondisi kembali stabil.

Bila Anda perhatikan, banyak sekali film yang seharusnya tayang pada tahun 2020 dan 2021 terpaksa diundur. Baik shootingnya maupun premiernya. Selain itu acara penghargaan juga tidak seperti sebelumnya, dimana akan diadakan tiap tahun dengan banyak tamu. Namun, dua tahun terakhir hanya dihadiri oleh artis yang mendapatkan nominasi dan presenternya saja.

Karena hal tersebut, banyak industri perfilman yang mengalami kerugian, bahkan menurut Yuswo pada bulan Maret kerugiannya mencapai 2 miliar dolar Amerika. Kemudian pada bulan yang sama usaha film Hollywood juga kehilangan keuntungan sebesar 5 miliar dolar. Karena sudah pasti industri ini akan lama mengalami pemulihan, mereka hanya dapat mengandalkan media digital secara streaming.

5. Maskapai penerbangan

Maskapai penerbangan merupakan sektor bisnis selanjutnya yang terdampak pandemi covid 19. Karena dibatasinya jadwal penerbangan, baik secara domestik maupun luar negeri. Tentunya karena hal tersebutlah membuat banyak maskapai kesulitan untuk bertahan. Belum lagi penghasilan terbesar dari sektor penerbangan adalah dari penjualan tiket yang dibeli oleh penumpang.

6. Agen travel

Sama halnya dengan maskapai penerbangan, bisnis travel agent juga terkena dampak yang cukup signifikan oleh pandemi. Apalagi sebagian besar pengguna jasa travel juga merupakan penumpang pesawat terbang dan juga para wisatawan baik domestik maupun luar negeri.

Disebabkan oleh pandemi ini, banyak lokasi wisata yang harus ditutup sementara waktu guna memutus tali penyebaran virus covid 19. jadi, sudah pasti travel agent juga akan terkena dampak karena banyak orang yang memilih tetap didalam rumah agar tidak tertular.

7. Salon dan barber shop

Karena adanya anjuran dari pemerintah untuk seluruh warga di Indonesia untuk tidak keluar dari rumah apabila tidak terlalu penting. Sehingga hal tersebut membuat banyak bisnis termasuk salon serta barber shop menjadi sepi pelanggan dan tidak dapat bertahan hingga para pemilik memilih untuk menutup usaha mereka. Walau banyak juga yang membuka jasa panggilan, maksudnya bila ada pelanggan yang ingin potong rambut, mereka bersedia datang kerumah.

8. Wedding Organizer

Untuk bisnis yang satu ini memang sudah pasti sangat terasa sekali dampak dari covid 19, karena tidak diizinkannya mengadakan acara resepsi pernikahan. Membuat banyak WO yang harus menutup sementarabahkan selamanya usaha mereka.

Apalagi sekarang ini, sekalipun telah diperbolehkan mengadakan resepsi. Namun tetap saja ada pembatasan jumlah tamu yang datang. Jadi, jasa dari wedding organizer tidaklah seramai dulu.

Itulah tadi beberapa sektor usaha yang terdampak oleh pandemi bahkan ada juga yang harus gulung tikar dikarenakan tidak ada lagi pemasukan untuk menjalan operasional bisnis, seperti membayar gaji karyawan, menyetok produk dan lain sebagainya.